February 19, 2015

REVIEW : SHAUN THE SHEEP MOVIE


Bagaimana seandainya satu hari saja Sheep dan konco-konco merasakan liburan (atau dalam hal ini, berpesta pora) sementara Farmer dan Bitzer beristirahat sejenak dari rutinitas menjemukan yang melelahkan? Terdengar seperti sehari di surga... tapi kita tahu bahwa segalanya tidak akan berjalan mulus. Dan memang, rencana bersantai di depan televisi seraya menikmati kudapan gagal total saat Bitzer menyadari persengkokolan para biri-biri untuk ‘menyabotase’ peternakan. Dalam upayanya membangunkan Farmer yang tertidur pulas di sebuah karavan, Bitzer berbuat blunder yang menyebabkan karavan lepas kendali dan membawa Farmer jauh memasuki perkotaan. Terantuk benda keras di kepala, Farmer seketika amnesia dan hanya bisa mengingat masa lalunya secara samar-samar. Merasa bertanggung jawab atas sederet permasalahan yang menimpa sang majikan, Shaun dan pasukan pun nekat menjelajahi kota untuk membawa pulang Farmer meski beresiko berhadapan dengan anggota pengendali hewan yang kejam. 

Jika kamu rajin memantengi layar beling, tentu tidak lagi asing dengan serial animasi stop-motion dari Britania Raya, Shaun the Sheep. Mengudara pertama kali pada tahun 2007, popularitas dari kawanan biri-biri yang dikomandoi oleh Shaun ini kian menanjak – bahkan melahirkan ‘anak’ berwujud Timmy Time – sehingga hanya tinggal menunggu waktunya saja bagi mereka untuk berlaga di layar lebar. Betul saja, setelah penantian selama ratusan episode berdurasi 7 menit dan menyambut perayaan hari jadi ke-8, Aardman Animations meluncurkan Shaun the Sheep Movie ke pasaran dengan Richard Starzak dan Mark Burton ditunjuk sebagai sang nahkoda. Konsep yang dipergunakan oleh versi bioskop ini kurang lebih serupa dengan serial televisinya – masih mengandalkan petualangan kocak dari para penghuni Mossy Bottom Farm – hanya saja skalanya diperluas menyesuaikan dengan medium anyarnya. 

Ya, sejatinya tidak ada perbedaan mencolok dari versi aslinya – masih menerapkan formula sukses serupa – termasuk kekacauan besar-besaran yang dipantik oleh sekumpulan hewan nyentrik (entah itu biri-biri, anjing, atau babi) untuk menciptakan gelombang tawa penonton. Tetap tidak ada dialog yang dipergunakan dengan tokoh-tokoh berwujud manusia yang menggumamkan kata-kata tak jelas sedangkan para hewan – yang juga tidak berbicara – menunjukkan tingkat kejeniusan selayaknya manusia saat bertingkah laku. Yang menjadikan Shaun the Sheep Movie lebih dari sekadar perpanjangan durasi salah satu episode adalah kelihaian Starzak dan Burton dalam menggulirkan kejenakaan secara konstan yang seringkali tepat sasaran (diselipi pula referensi ke budaya populer) dengan tatanan penceritaan mengikat yang akan membuat penonton dipenuhi keinginan untuk terus mengikuti petualangan besar Shaun bersama kawan-kawan menembus ganasnya perkotaan. Ini seperti Chicken Run dipertemukan Wallace and Gromit.

Shaun the Sheep Movie tidak saja digerakkan oleh kelucuan berkali-kali lipat dari apa yang bisa kamu dapatkan di serial televisinya beserta keseruan dari perjuangan Shaun memulangkan Farmer seraya menghindari kejaran anggota pengendali hewan yang keji, tetapi juga satu hal penting yang wajib ada pada film keluarga: kehangatan. Di sini, duo pembuat film menjalankan tugasnya dengan memberi kita kilasan balik soal masa lalu Farmer, menilik masa-masa muda Shaun, Bitzer, beserta para penghuni peternakan lainnya melalui bidikan gambar di super 8 beserta potret hasil jepretan kamera yang menjabarkan definisi dari keluarga. Mengobarkan rasa hangat. Menyingkap bahwa dibalik sikap bermusuhan satu sama lain – termasuk Farmer yang cenderung dingin – bagaimanapun, mereka adalah satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan, saling melengkapi, mengasihi, melindungi, dan membutuhkan satu sama lain.

Exceeds Expectations

1 comment:

  1. Anyone who doesn't have a grand time watching 'Shaun the Sheep Movie' is suffering from a fractured funny bone that needs to be reset.

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch