23 November 2016

REVIEW : UNDER THE SHADOW


"They travel on the wind, moving from place to place until they find someone to possess"

Sebelum lahirnya A Girl Walks Home Alone at Night (2014), tidak sedikit publik internasional yang dibuat bertanya-tanya, “bagaimana sih wajah sinema Iran dalam film horor?,” lantaran selama ini referensi atas film asal Iran mayoritas terbatas di sektor drama. Memang sih film vampire berhijab ini merupakan keluaran Negeri Paman Sam, namun paling tidak khalayak ramai memperoleh cukup pandangan bakal seperti apa wujudnya kalau-kalau sineas Persia mencoba mempermainkan rasa takut penonton dalam produk kreatif. Tontonan terbaru kreasi sutradara debutan Babak Anvari yang mewakili Inggris Raya di ajang Oscars tahun depan, Under the Shadow, pun tak beda jauh kasusnya dengan A Girl Walks Home Alone at Night. Memperoleh banyak dukungan dari pemain serta kru berdarah Iran, nyatanya film ini merupakan hasil kerjasama antara Inggris dengan Qatar dan Yordania alih-alih produk lokalan seperti kerap dikira banyak pihak. Berita buruk? Sama sekali tidak. Malahan adanya keuntungan tersendiri tidak terbentur dengan persoalan sensor membuat Under the Shadow lebih lugas dan bebas dalam menyuarakan kegundahan hati si pembuat filmnya terkait mimpi buruk yang terlahir dari situasi sosial politik dan represi terhadap perempuan di Iran. Yang membuatnya terdengar semakin menarik, segala bentuk komentar sosial ini disampaikan melalui film bergenre horor. 

18 November 2016

REVIEW : FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM


“Yesterday, a wizard entered New York with a case. A case full of magical creatures. And unfortunately, some have escaped.” 

Gagasan mengalihrupakan buku Fantastic Beasts and Where to Find Them hasil tulisan J.K. Rowling (menggunakan nama samaran Newt Scamander) ke medium audio visual sebetulnya sudah terdengar maksa, apalagi merentangkannya menjadi franchise baru dengan total jenderal lima seri. Jelas sudah jauh lebih gila pula ambisius dari The Hobbit tempo hari. Pasalnya, Fantastic Beasts bukanlah berbentuk novel konvensional yang didalamnya mengandung plot runtut melainkan sebuah ensiklopedia mini berisi panduan atas satwa magis yang dijadikan buku teks wajib bagi siswa-siswi Hogwarts. Jadi pertanyaannya adalah, akankah versi filmnya berceloteh mengenai petualangan si pengarang dalam berburu binatang-binatang fantastis ini seperti, errr... Pokemon? Bisa jadi. Pun demikian, segala bentuk skeptisisme terhadap spin-off sekaligus prekuel bagi kedelapan seri film Harry Potter ini perlahan tereduksi begitu dikonfirmasi bahwa J.K. Rowling ikut turun tangan secara langsung sebagai penulis skrip. Keterlibatan ibunda, disamping sedikit banyak memberikan jaminan bahwa Fantastic Beasts tidak akan melenceng jauh dari jalurnya, juga membantu meningkatkan excitement di kalangan Potterhead karena ini kesempatan emas untuk bernostalgia pula mengeksplor lebih jauh wizarding world dalam semesta Harry Potter rekaan Rowling. 

12 November 2016

REVIEW : HACKSAW RIDGE


“While everybody is taking life I’m going to be saving it, and that’s going to be my way to serve.” 

Mengistirahatkan diri dari karir penyutradaraan selama satu dekade tercatat sedari Apocalypto (2006) dan lantas mengalihkan energinya ke bidang lakonan maupun produser yang kurang menuai sukses, Mel Gibson akhirnya memutuskan untuk kembali menekuni karir yang telah menghadiahinya satu piala Oscars (berkat Braveheart) lewat Hacksaw Ridge. Masih mengusung elemen epik kolosal seperti ketiga garapan terdahulunya – termasuk pemenang Oscars, Braveheart, dan film kontroversial tentang Yesus, The Passion of the ChristHacksaw Ridge didasarkan pada kisah nyata menakjubkan dari seorang prajurit bagian medis bernama Desmond T. Doss yang dianugerahi Medali Kehormatan atas jasa-jasanya menyelamatkan puluhan nyawa pada Perang Dunia II. Apabila fakta yang menyebutkan dia bisa membawa pulang sebanyak 75 prajurit (malah ada kemungkinan lebih dari itu!) secara selamat dari medan peperangan belum cukup membuatmu takjub, tunggu sampai kamu mengetahui kenyataan bahwa Doss sukses melakukan aksi penyelamatan tersebut sekalipun dirinya sama sekali enggan memanggul senjata selama diterjunkan mengikuti pertempuran melawan Nippon. 

8 November 2016

REVIEW : OUIJA: ORIGIN OF EVIL


“He's gone. He lives in the dark and the cold, and he screams, and screams, and screams...” 

Ouija (dibaca wee-jah) adalah sebutan untuk sebuah papan kayu datar yang diukiri huruf-huruf beserta angka-angka, dibubuhi kata berbunyi “yes” “no” maupun “goodbye”, serta berhiaskan ornamen matahari serta bulan di kedua sisi atas. Kegunaannya, sebagai media berkomunikasi dengan arwah – ya mirip-mirip Jelangkung gitu deh. Terdapat tiga peraturan yang kudu dipatuhi selama bermain dengan Ouija; dilarang memainkannya sendiri, dilarang mempergunakannya di atas kuburan, dan wajib mengucap salam perpisahan saban mengakhiri sesi tanya jawab bersama para lelembut. Ketiga peraturan ini sifatnya mutlak, tidak mengenal kompromi dalam bentuk apapun. Jika berani melakukan pelanggaran, bersiaplah menerima konsekuensi mengerikan seperti biasa dialami oleh karakter-karakter mengenaskan di film horor. Kebenaran mengenai Ouija sendiri sebetulnya masih dipertanyakan, namun board game keluaran Hasbro ini sempat mengalami lonjakan popularitas di era 60-an dan perlahan tergerus keberadaannya oleh modernitas. Belakangan Hasbro berniat mempopulerkannya kembali lewat medium film berjudul Ouija di tahun 2014 dan disusul prekuelnya dua tahun kemudian, Ouija: Origin of Evil, yang berupaya memperbaiki citra film pendahulu yang memprihatinkan. 

4 November 2016

REVIEW : SHY SHY CAT


“Buat apa saya minta ke kamu? Minta itu ke Allah. Dan dari dulu yang saya minta ke Allah cuma kamu.” 

Apabila kamu berasal dari kota kecil, atau malah pelosok desa, rasa-rasanya pernah berada di fase diteror dua perkara. Pertama, kesulitan menjumpai pekerjaan sesuai minat bakat dengan gaji memadai sehingga bayangan soal meninggalkan kampung halaman lalu menjajal cari peruntungan hidup di metropolitan terus menerus menyembul. Dan kedua, diburu-buru menikah dengan ‘ancaman’ akan dijodohkan jika belum kunjung menemukan calon pendamping hidup kala menapaki usia tertentu. Melalui kolaborasi ketiganya bersama Adhitya Mulya setelah Test Pack: You Are My Baby dan Sabtu Bersama Bapak, Monty Tiwa mencoba merangkum (plus menertawakan) kegelisahan-kegelisahan ini ke bentuk sebuah tontonan komedi romansa sarat kritik sosial yang dimeriahkan barisan bintang-bintang ternama berjudul Shy Shy Cat. Dalam kaitannya sebagai sentilan sentilun, film memang cenderung terbata-bata untuk memenuhi segala potensinya. Tapi dalam tatarannya sebagai sajian yang diperuntukkan bagi para pencari obat pelepas penat, Shy Shy Cat terhitung merupakan salah satu yang paling berhasil tahun ini. 

1 November 2016

REVIEW : AE DIL HAI MUSHKIL


“We can’t choose when to fall in love, but we can choose when to walk away.” 

Sudah cukup lama diri ini tidak mendapati nama Karan Johar mengemban kredit sebagai sutradara. Selepas meluncurkan Student of the Year (2012), putra dari sutradara legendaris, Yash Johar, yang kini mengelola rumah produksi Dharma Productions ini lebih asyik menempati kursi produser. Baru menjelang perayaan Diwali (hari raya bagi umat Hindu di India) di tahun 2016, Karan yang memulai karir penyutradaraannya dengan menggarap film fenomenal Kuch-Kuch Hota Hai kembali menyapa para penikmat tontonan Bollywood. Lewat kreasi termutakhirnya bertajuk Ae Dil Hai Mushkil, atau mempunyai makna this heart is complicated, sekali lagi Karan bermain-main di zona yang membesarkannya, disayanginya, serta dikuasainya betul-betul. Itu berarti, film tersusun atas elemen-elemen berikut ini: 1) pelakon utama bertampang rupawan, 2) lokasi pengambilan gambar mengagumkan yang kebanyakan berada di luar India, 3) plot terkait hubungan percintaan rumit, 4) nomor-nomor musikal renyah di telinga, 5) melodrama penguras air mata, 6) tata produksi diatas rata-rata, dan 7) durasi melampaui 2,5 jam. Pengecualian untuk My Name is Khan, kamu bisa mendapati adanya tujuh unsur tersebut di film-film Karan termasuk Ae Dil Hai Mushkil

30 Oktober 2016

REVIEW : DOCTOR STRANGE


“You think you know how the world works. You think this material universe is all there is. What if I told you the reality you know is one of many?” 

Dengan pustaka film kepunyaan Marvel Studios telah mempunyai sejumlah koleksi terhitung sangat impresif semacam Iron Man 2, Captain America: Winter Soldier, sampai The Avengers, sejatinya sudah cukup sulit membayangkan langkah apa selanjutnya yang bakal mereka tempuh guna mempertahankan posisi sebagai penghasil adaptasi film komik terkemuka di dunia saat ini. Di kala pesimistis mulai mengusik, serentetan kejutan satu demi satu menyeruak berwujud Guardians of the Galaxy yang berjasa mempopulerkan kembali tembang-tembang dari era 60-70’an, Ant-Man mencuplik elemen heist movie, hingga paling anyar, Doctor Strange, yang menguatkan kembali keyakinan bahwa studio ini tidak akan membuat film buruk... setidaknya dalam waktu dekat. Tajuk utama dari film keempat belas dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe ini sendiri telah berteriak cukup lantang untuk menggambarkan seperti apa tontonan yang bakal kita dikonsumsi, yaitu strange (aneh) – meski kata “strange” disini merujuk pada nama belakang si karakter utama, bukan berfungsi sebagai kata sifat. Akan terdengar cenderung hiperbolis memang menyebut Doctor Strange sebagai sebuah “the strangest mainstream movie I’ve ever seen!”, tapi memang begitulah adanya. Mendobrak segala batasan-batasan yang ada, film arahan Scott Derrickson ini membawamu menjelajahi dunia imajinasi yang boleh jadi tak pernah kamu bayangkan akan bisa dicicipi di film superhero sebelumnya. 
Mobile Edition
By Blogger Touch