August 14, 2017

REVIEW : BAD GENIUS


“To me ‘cheating’ means someone gets hurt. What we do doesn’t hurt anyone. It’s win-win.” 

Siapa bilang perfilman Thailand hanya jago memproduksi film horor dan percintaan? Rumah produksi terkemuka di Negeri Gajah Putih, GDH 559 (sebelumnya dikenal dengan nama GTH), membuktikan bahwa mereka pun jagoan dalam mengkreasi tontonan mencekam dengan subgenre heist film melalui rilisan teranyar mereka bertajuk Bad Genius. Tak seperti para karakter dari film beraliran sama yang umumnya memiliki riwayat sebagai kriminal dan misi utamanya adalah melakukan perampokan demi mendapatkan setumpuk uang atau emas sebagai bekal dapatkan hidup sejahtera, para karakter dalam film arahan Nattawut Poonpiriya (Countdown) ini hanyalah siswa-siswi setingkat SMA yang masih berusia belasan. Yang mereka incar juga bukan kemilau emas melainkan skor bagus dalam ujian-ujian sekolah yang menentukan. Berbeda pula dengan The Perfect Score (2004) dimana tokoh-tokohnya saling berkonspirasi untuk nyolong kunci jawaban, Bad Genius lebih ke menyoroti sepak terjang sindikat penyedia jasa sontekan kecil-kecilan dalam menyusun trik menyontek agar tak kepergok pengawas ujian selama tes kemampuan akademis berlangsung. Suatu kecurangan semasa sekolah yang sejatinya pernah dilakukan hampir semua siswa, bukan? 

August 12, 2017

REVIEW : THE EMOJI MOVIE


“My feelings are huge. Maybe I'm meant to have more than just one emotion! I have so much more.” 

Kita telah melihat bagaimana riuhnya interaksi antar mainan saat ditinggal pergi sang majikan dalam trilogi Toy Story. Kita telah menyaksikan bagaimana serunya petualangan mengarungi dunia arcade game melalui Wreck-It Ralph. Dan kita juga telah menjadi saksi bagaimana peliknya pola kerja para emosi kala menjalankan tugasnya dalam tubuh manusia lewat Inside Out. Lalu, kapan kita akan mengintip kisah belakang layar para emoji di ponsel cerdas yang jelas mempunyai kontribusi penting atas kesuksesan atau kegagalan tersampaikannya suatu pesan teks? Ternyata, tidak membutuhkan waktu lama bagi petinggi studio di Hollywood untuk merealisasikannya. Menyadari bahwa fenomena penggunaan emoji di kalangan generasi milenial kian merebak dan terinspirasi dari kesuksesan yang direngkuh Disney/Pixar, Sony Pictures Animation pun mengajukan konsep kurang lebih senada yang tak kalah ambisius mengenai dunia para emoji di dalam sebuah aplikasi ponsel melalui karya terbaru mereka bertajuk The Emoji Movie. Ditunjuk untuk mengomandoi proyek animasi kedelapan Sony yakni Tony Leondis yang sebelumnya mengarahkan Lilo & Stitch 2 dan Igor

August 11, 2017

REVIEW : RAFATHAR


“Ini bukan bayi biasa. Ini bayi mutan, Bos.” 

Ada satu film keluarga dari era 90-an yang rutin ditayangkan beberapa bulan sekali oleh salah satu televisi swasta tanah air berjudul Baby’s Day Out (1994). Dalam film tersebut, kita melihat serentetan kekonyolan yang dialami sejumlah pelaku tindak kriminal akibat dipecundangi seorang bayi yang mereka culik dari keluarga kaya. Guliran penceritaan kurang lebih senada bisa dijumpai pula dalam film laga berbumbu komedi Rob-B-Hood (2006) yang dibintangi Jackie Chan dan film komedi romantis Demi Cinta (2017), produksi MNC Pictures dimana para penculik malah dibuat jatuh hati kepada si bayi. Dari ketiga film tersebut, bisa ditarik benang merah bahwa pekerjaan menculik bayi dalam film fiktif yang sepintas tampak sangat mudah dieksekusi rupanya jauh lebih memusingkan dari yang perkirakan. Percobaan terbaru dalam menjalankan misi ‘menculik bayi’ dilakukan oleh Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dalam Rafathar (2017) yang konon dibuat sebagai kado ulang tahun bagi putra tercinta mereka, Rafathar Malik Ahmad. Bekerjasama dengan Umbara bersaudara; Bounty sebagai sutradara sementara Anggy di kursi produser, Rafathar dikreasi sebagai film laga komedi yang diharapkan mampu menghibur seluruh anggota keluarga. Berhasilkah? 

August 10, 2017

REVIEW : ANNABELLE CREATION


“Sister, you always say we can’t see God but we can feel His presence. In this house, I feel a different kind of presence and evil one. It’s coming after me.” 

Selain para petinggi studio yang kecipratan untung film pertama, siapa sih yang menanti-nantikan babak berikutnya dari teror boneka iblis bernama Annabelle? Dirilis pada tahun 2014 silam, Annabelle yang merupakan spin-off sekaligus prekuel bagi The Conjuring memang berhasil memperoleh ratusan juta dollar dari peredaran seluruh dunia. Akan tetapi di saat bersamaan, film ini juga meninggalkan perasaan traumatis tersendiri bagi sebagian penontonnya. Bukan karena filmnya sungguh meneror, melainkan disebabkan keburukannya yang bikin kepala pusing-pusing tidak karuan. Sebagai film horor, Annabelle sulit dikategorikan menakutkan dan lebih tepat disebut menggelikan. Namun keuntungan besar yang diperolehnya mendorong New Line Cinema untuk tetap memberi lampu hijau bagi instalmen selanjutnya yang diposisikan sebagai prekuel (well, prekuel bagi sebuah prekuel. Prequelception) dan menempatkan sutradara Lights Out, David F. Sandberg, sebagai sang nahkoda. Mengingat seri terdahulu sudah cukup buruk, tentu mustahil kan film yang diberi judul Annabelle Creation ini akan berada di level lebih rendah? Berkaca pada Ouija: Origin of Evil yang tak dinyana-nyana justru tampil superior dibanding film pertamanya, sejatinya ada harapan Annabelle Creation bisa menebus kesalahan sang predesesor terlebih tim produksinya sangat bisa diandalkan. 

August 6, 2017

REVIEW : MARS MET VENUS (PART CEWE & PART COWO)


“Pupil mata cewe itu kayak buaya. Bisa ngeliat 180 derajat tanpa ngelirik.” 

MNC Pictures punya gagasan menarik. Memecah film terbaru mereka yang bergenre komedi romantis, Mars Met Venus, menjadi dua bagian terpisah yakni Part Cowo dan Part Cewe. Ditinjau dari inti penceritaan sih, kedua film tersebut serupa. Pembedanya terletak pada perspektif dalam melihat serentetan peristiwa dalam kehidupan sepasang kekasih sedari keduanya saling lempar pandang sampai hendak melangkahkan ke jenjang pernikahan. Dalam hal ini pilihannya adalah menggunakan kacamata laki-laki atau menggunakan kacamata perempuan. Narasi semacam ini sejatinya tidak benar-benar anyar di sinema dunia karena telah diaplikasikan terlebih dahulu dalam The Disappearance of Eleanor Ribgby yang mempunyai tiga versi film; Him, Her, dan Them (gabungan antara keduanya). Tapi tentu tetap menggelitik kepenasaran bukan buat menengok bagaimana sang sutradara, Hadrah Daeng Ratu (Super Didi), mempresentasikan konsep yang tampak begitu unik di atas kertas ke dalam bahasa gambar? Apakah memang ada signifikansinya membagi satu cerita sama ke dalam dua film berbeda atau pembagian menjadi Part Cewe dan Part Cowo justru berakhir tak lebih dari sekadar gimmick? Jawabannya baru bisa kamu peroleh selepas menyaksikan kedua bagian terpisah tersebut. 

August 3, 2017

REVIEW : BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL


“Melupakan masa lalu sama dengan mematikan masa depan bangsa ini.” 

Dibandingkan dengan genre lain, dokumenter terhitung paling jarang dijamah oleh para sineas di perfilman Indonesia. Dari sisi kualitas sebetulnya banyak pula yang bagus (dari beberapa tahun terakhir, dapat ditengok melalui Jalanan, Negeri di Bawah Kabut, serta Pantja-Sila), hanya saja khalayak ramai pada umumnya cenderung ogah-ogahan melahap film dokumenter disebabkan melekat kuatnya stigma yang menyatakan tontonan ini bersinggungan erat dengan kata ‘membosankan’. Tentu saja tidak bisa sepenuhnya disalahkan mengingat saya sendiri masih sering menjumpai film dokumenter tanah air, utamanya non-komersil dan pendek, yang subjek materinya disampaikan dengan narasi amat sangat kaku seperti membaca buku teks dan pilihan gambar di latar belakang sebagai penguat narasi yang kurang hidup. Monoton. Baru berjalan beberapa menit saja, rasanya sudah ingin mengibarkan bendera putih. Di tengah kekeringan ini, produser Sheila Timothy bersama rumah produksi naungannya, Lifelike Pictures, berinisiatif menghadirkan sebuah sajian dokumenter berbeda yang diharapkan mampu merangkul beragam pihak dari berbagai lapisan usia. Merekrut Jay Subyakto yang telah terlatih membesut video klip dan pagelaran konser sebagai sang sutradara, mereka menghadirkan Banda The Dark Forgotten Trail yang mengajak penonton untuk menelusuri sejarah perdagangan rempah, kepulauan Banda, serta Indonesia. 
Mobile Edition
By Blogger Touch