25 Agustus 2016

REVIEW : DETECTIVE CONAN: THE DARKEST NIGHTMARE


Let me just say, The Darkest Nightmare adalah salah satu seri terbaik dari rangkaian film Detective Conan. Secara personal, saya akan menempatkannya di jajaran lima besar terbaik bersama Captured in Her Eyes, The Phantom of Baker Street, Crossroad in the Ancient Capital, serta The Eleventh Striker – kamu sangat mungkin akan mempunyai pendapat berbeda soal ini. Dalam jilid ke-20 ini, Kobun Shizuno menghamparkan plot rapat berelemen spionase pekat yang mengikat atensi penonton. Tidak hanya itu, keberadaan serentetan laga seru pun bisa kamu endus keberadaannya disini. Keduanya, telah mengemuka sedari menit pertama atau katakanlah prolog yang gegap gempita. Seorang perempuan misterius (disuarakan oleh Yuki Amami) diperlihatkan mendobrak masuk ke Biro Keamanan Publik guna mencuri NOC (Non-Official Cover), sebuah data penting berisi nama-nama agen rahasia dari seluruh dunia yang menyusup ke tubuh Organisasi Hitam. Tak berselang lama, yang kita saksikan berikutnya adalah kejar-kejaran mobil berkecepatan tinggi di jalanan Tokyo yang berujung pada terlemparnya mobil si perempuan ke sungai. 

21 Agustus 2016

REVIEW : TIGA DARA


“Nunung merenung, Nana merana, dan Neni bersedih hati.” 

Rupa-rupanya penduduk negeri ini tak pernah lelah meributkan soal cari jodoh. Pertanyaan “kapan kawin?” dilanjut tawaran membantu mencarikan pasangan yang kerap diajukan kepada para lajang di usia kepala dua keatas masih menjadi teror psikologis terhebat dalam era serba digital sekalipun enam tahun lalu sudah diungkit-ungkit oleh Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail, melalui Tiga Dara (1956). Hanya Tuhan yang tahu sejak kapan persisnya pertanyaan mengusik tersebut tumbuh berkembang di bumi pertiwi, namun satu hal yang jelas, Tiga Dara yang merupakan rekaman sejarah bangsa Indonesia berbentuk produk kebudayaan menunjukkan bahwa problematika dikejar tenggat waktu menuju ke pelaminan tetap berasa relevan sampai setengah abad kemudian. Tidak peduli telah melewati tiga periode pembangunan politik maupun pergantian tampuk kepemimpinan sebanyak enam kali, persoalan mencari jodoh tetap dianggap mempunyai urgensi setara dengan mencari sesuap nasi bagi sebagian masyarakat Indonesia. 

20 Agustus 2016

[Special] KRITIK FILM BUKAN SEKADAR CACI MAKI


Persinggungan saya dengan website Qubicle yang singgah di halaman http://qubicle.id terjadi untuk pertama kalinya sekitar dua bulan silam menyusul disebarkannya pintasan ke sebuah artikel menarik terkait minat saya terhadap dunia perfilman melalui jejaring sosial Twitter. Meski ketertarikan pada Qubicle tidak serta merta terbentuk, tanpa disadari, sebetulnya hampir saban minggu saya melakukan kunjungan kesana entah untuk sekadar iseng-iseng belaka atau dilandasi keinginan mencari artikel informatif sebagai bahan menambah wawasan (duileeee!). 

17 Agustus 2016

REVIEW : LIGHTS OUT


“Sometimes the strongest thing to do is to face your fear.” 

Tahun lalu, seorang kawan mengenalkanku pada sebuah film horor pendek berjudul Lights Out yang diunggah oleh akun bernama ponysmasher di YouTube. Durasinya singkat saja, sekitaran tiga menit, tapi daya teror yang dibawanya sanggup membuat penonton-penonton berhati lemah enggan lagi untuk mematikan lampu sampai kurun waktu cukup lama. Efektifitas penempatan metode menakut-nakutinya di tengah terbatasnya durasi dan (pastinya) bujet layak memperoleh acungan dua jempol. Ponysmasher atau David F. Sandberg tidak hanya memberi rasa takjub lewat Lights Out semata karena penelusuran didasari kepenasaran tingkat tinggi akan karya-karyanya mempertemukanku dengan film-film seram lain darinya yang tidak kalah menggedor jantung, seperti Pictured, Cam Closer, serta Coffer. Dengan popularitas kian menjulang akibat masifnya penyebaran Lights Out lewat media sosial, tinggal menunggu waktu bagi sang sutradara untuk mendapat ajakan berkolaborasi dari para petinggi Hollywood. Benar saja, hanya terhitung tiga tahun sejak versi pendeknya mulai menjumpai penggemarnya, Lights Out mendapatkan kesempatan menghiasi layar-layar bioskop dunia dalam wujud film panjang. 

16 Agustus 2016

REVIEW : SADAKO VS. KAYAKO


Pernah menjumpai sebuah film yang kadar ketololannya maksimal sampai-sampai terasa menghibur buat ditonton? Jika belum, deskripsi tersebut tepat buat dilekatkan pada Sadako vs Kayako. Hanya dengan mendengar gagasan mempertarungkan dua hantu ikonik asal negeri Sakura saja sudah bikin geli-geli gimana gitu. Terlalu naif kalau menduga Sadako vs Kayako akan memberimu kengerian selayaknya jilid awal dari franchise yang dibintangi kedua demit ini – Sadako dari Ring, sementara Kayako dari Ju-On – mengingat sejarah mencatat pertandingan satu lawan satu antar karakter film horor legendaris seperti tampak dalam Freddy vs Jason (2003) maupun Alien vs Predator (2004), kesemuanya berakhir sebagai lawakan alih-alih teror nyata. Dan ya, meski dipunggawai Koji Shiraishi yang pernah memberikan mimpi buruk lewat The Curse (2005), Sadako vs Kayako memang sama sekali tidak mencoba untuk tampil serius. Jadi jangan heran jika kamu akan mendapati serentetan keganjilan-keganjilan menggelikan bertebaran sepanjang durasi merentang. 

14 Agustus 2016

REVIEW : THE SHALLOWS


“Get out of the water. Shark!” 

Setelah puas ‘ngerjain’ Liam Neeson melalui tiga film berturut-turut; Unknown, Non-Stop, sampai Run All Night, Jaume Collet-Serra membutuhkan sedikit penyegaran. Dia mencari korban baru untuk disiksanya habis-habisan secara fisik dan mental di film teranyarnya. Pilihan jatuh kepada istri cantik Ryan Reynolds, Blake Lively, yang ndilalah tengah berburu peran menantang lantaran terinspirasi oleh kinerja hebat sang suami di Buried. Dalam The Shallows – begitu judul dari proyek film termutakhir yang ditangani oleh Collet-Serra – Blake Lively diposisikan pada satu situasi yang serupa tapi tak sama dengan Reynolds, yakni terisolasi. Jika Buried sepenuhnya memutuskan interaksi sang pemeran Deadpool bersama makhluk hidup lain mengingat dia terkubur cukup dalam, maka Lively di The Shallows masih sedikit lebih beruntung karena dia bisa menghirup udara segar, pandangan tak terbatas dan mendapat ‘teman ngobrol’ walau tetap saja beruntung adalah kata yang terlalu bagus buat mendeskripsikannya karena Lively terdampar di batu karang dengan goresan luka serius menghiasi sekujur kaki seraya dikelilingi hiu putih ganas yang siap kapanpun buat mencaploknya hidup-hidup. 

6 Agustus 2016

REVIEW : 3 SRIKANDI


“Bukan untuk kalian, medali ini untuk negerimu.” 

Siapa menduga 3 Srikandi akan semenghibur ini buat ditonton? Ya, mengedepankan tema “from zero to hero” berbasis dunia olahraga cabang panahan yang disarikan dari kisah nyata kemenangan pertama atlet Indonesia di ajang bergengsi Olimpiade, memang telah sangat mengindikasikan bahwa 3 Srikandi akan sangat melibatkan emosi penonton. Dalam hal ini, terinspirasi dan tersentuh – dua kesan yang bisa dicium dari premisnya saja. Tapi tertawa terbahak-bahak berulang kali? Nyaris dapat dipastikan, sebagian besar calon penonton tidak mengantisipasi 3 Srikandi bakal mempunyai kandungan humor cukup tinggi ditilik dari materi promosi maupun tema dramatis mengenai “perjuangan menuju puncak” yang diusungnya. Sang sutradara, Iman Brotoseno, menentukan pilihan untuk melantunkan film layar lebar perdananya ini menggunakan nada penceritaan cenderung “ringan nan cerah” ketimbang penuh uraian air mata sejalan dengan jiwa-jiwa muda dari tiga tokoh sentral; Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, serta Kusuma Wardhani, yang ceria, dipenuhi energi bergejolak, pula sepertinya mengagungkan prinsip "girls just wanna have fun". And it works! Bahkan bisa dikata, 3 Srikandi adalah salah satu film paling menyenangkan yang saya tonton di layar lebar dalam delapan bulan terakhir. Sangat, sangat menikmati setiap menitnya. 
Mobile Edition
By Blogger Touch