28 September 2016

REVIEW : ONE DAY


Masih ingat dengan film komedi romantis asal Thailand yang bikin geli-geli gregetan, Hello Stranger? Apabila masih mengingatnya jelas – bahkan dirimu adalah salah satu yang dibuat jatuh hati olehnya – maka One Day yang juga menjamah ranah komedi romantis tentunya harus menduduki peringkat teratas dalam daftar “film yang wajib ditonton secepat mungkin, begitu ada waktu senggang”. Alasannya sederhana; One Day menandai kolaborasi reuni antara sutradara Banjong Pisanthanakun (Shutter, Pee Mak) bersama aktor sekaligus peracik skenario Chantavit Dhanasevi yang sebelumnya bertanggungjawab atas lahirnya Hello Stranger. Mereka bekerjasama dibawah naungan rumah produksi GDH (Gross Domestic Happiness) yang merupakan jelmaan GMM Tai Hub setelah pecah kongsi akhir tahun lalu. Guliran penceritaan diajukan di karya terbaru ini pun sejatinya tidak jauh berbeda. Apabila Hello Stranger mempersilahkan dua orang asing untuk saling merajut kasih dalam tempo sepekan di Korea Selatan, maka One Day mempersingkatnya ke batasan maksimal: satu hari saja. Kali ini, Jepang adalah saksi bisunya. Mencuplik elemen dongeng berbumbu fantasi, sang protagonis laki-laki disini yang berasal dari kalangan nobody diceritakan memperoleh kesempatannya untuk membuat perempuan idamannya bertekuk lutut hanya dalam waktu sehari. 

17 September 2016

REVIEW : BAD MOMS


“You're so not a failure as a mother. In fact, you're the best mother that we've ever seen.” 

Siapa bilang para ibu rumah tangga tidak bisa berpesta gila-gilaan? Dijerat rutinitas menjemukan nan melelahkan yang berkutat di kisaran mengurusi anak entah itu menyiapkan sarapan, mengantarkan ke sekolah, sampai memenuhi segala kebutuhan mereka termasuk membantu mengerjakan tugas sekolah, lalu menghadiri rapat pertemuan wali murid yang pokok bahasannya berpotensi bikin menguap lebar-lebar, kemudian membereskan pekerjaan rumah seperti menuntaskan cucian menumpuk atau memasak makan malam untuk seluruh anggota keluarga di malam hari walau energi telah terkuras habis seharian, dan belum lagi jika dirongrong kejadian-kejadian tak terduga yang membutuhkan perhatian lebih... well, mereka bisa melakukan apa saja guna melepaskan kepenatan hidup asalkan diberi kesempatan. Duo pencetus trilogi The Hangover, Jon Lucas dan Scott Moore, memberi kita gambaran bagaimana seandainya para ibu-ibu tersebut akhirnya memperoleh kesempatan emas kemudian memanfaatkannya semaksimal mungkin di kreasi teranyar keduanya, Bad Moms, yang bak perpaduan antara The Hangover dan Mean Girls

12 September 2016

REVIEW : NERVE


“Are you a Watcher? Or a Player?” 

Venus ‘Vee’ Delmonico (Emma Roberts) mempunyai wajah ayu, kemampuan membidik kamera yang apik, tapi dia bukanlah gadis paling digilai para lelaki di sekolahnya. Ketakutannya untuk keluar dari zona nyaman menyulitkannya berterus terang kepada sang ibu (Juliette Lewis) mengenai masa depannya dan memerangkapnya sebagai dayang-dayang dari Sydney (Emily Meade), seorang pemandu sorak yang populer. Kehidupan Vee yang bisa dibilang monoton mendadak berubah 180 derajat ketika sebuah kejadian memalukan memicu kemarahannya hingga mencapai titik kulminasi, membuatnya nekat mendaftarkan diri menjadi salah satu kontestan di permainan ilegal berbasis dunia maya bernama Nerve yang tengah digandrungi generasi muda. Aturan permainan Nerve sendiri terbilang sederhana. Saat kamu memasuki laman utama, muncul dua opsi untuk dipilih; pemain atau penonton. Melibatkan diri sebagai pemain berarti menuntaskan setiap tantangan demi merebut hadiah berupa uang sekaligus popularitas, sementara memilih sebagai penonton berarti membayar guna menyaksikan para pemain beraksi via ponsel pintar maupun komputer. Pemain dapat mencapai level lebih tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilannya menaklukkan tantangan, tetapi juga seberapa besar respon penonton terhadapnya. 

9 September 2016

REVIEW : WARKOP DKI REBORN - JANGKRIK BOSS PART 1


“Ini bukan taplak meja sembarangan lho. Pernah dipakai sama Katy Perry. Jadi kalau makan di meja ini, serasa makan sama Katy Perry. Gitu!” 

Pasca melepas 30 judul film, grup lawak legendaris, Warkop DKI, yang tersusun atas Dono, Kasino, dan Indro, memutuskan mengakhiri atraksi kelakarnya dalam medium film bioskop pada dua dasawarsa silam lewat Pencat Sana Pencet Sini (1994) menyusul situasi perfilman nasional yang tidak kondusif. Selepas itu, mereka bertransmigrasi ke layar beling sampai kemudian Kasino dan Dono menghadap ke Yang Maha Satu. Merek dagang Warkop sempat terhenti di periode awal 2000-an dengan Indro lebih memilih berkonsentrasi ke solo karir alih-alih merekrut personil anyar guna mempertahankan eksistensi grup yang membesarkan namanya tersebut. Vakum selama belasan tahun, adalah rumah produksi Falcon Pictures (Comic 8, My Stupid Boss) yang melontarkan gagasan untuk mengaktivasi Warkop DKI – tentunya dengan jajaran personil baru. Tiga nama terpilih dalam regenerasi Warkop DKI (atau Warkop DKI Reborn) yakni Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, serta Tora Sudiro. Saking ikoniknya sosok Dono, Kasino, maupun Indro, penunjukkan ini jelas memicu beragam reaksi keras dari kalangan netizen yang ceriwis mengingat tampilan fisik diantara mereka jauh berbeda. Namun segala kebisingan ini mulai mereda tatkala trailer resmi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dilepas, disusul oleh film utuhnya yang lantas cukup ampuh membungkam lontaran skeptisisme pula hina dina.

6 September 2016

REVIEW : TRAIN TO BUSAN


“I’ll take you to mom no matter what.” 

Belum ada sepekan memproklamirkan 2016 sebagai tahun yang ngertiin banget para pecinta film horor – hati masih dibuat bungah oleh Don’t Breathe – muncul satu lagi judul film seram yang menyita perhatian. Sekali ini penyuplainya bukan Negeri Paman Sam, melainkan dekat-dekat saja berasal dari Korea Selatan dan konon kabarnya telah merengkuh 11 juta penonton selama penayangan di bioskop dalam negeri (wuedan!). Train to Busan, demikian film ini disebut, bermain-main dalam teritori zombie yang ulik punya ulik baru kali pertama dijadikan bahan kupasan film besar buatan sineas Negeri Gingseng dan ngobrol-ngobrol soal pertama, kursi penyutradaraan film ini diduduki sutradara pendatang baru dalam ranah live action, Yeon Sang-ho, yang jejak rekamnya meliputi animasi-animasi panjang seperti The King of Pigs dan The Fake. Hmmm... meragukan? Well, sekalipun serba pertama, kenyataannya Train to Busan bukanlah ‘film hijau’ yang bisa kamu olok-olok sesuka hati. Menyatukan elemen penggedor jantung dengan elemen penggelitik saraf haru secara sempurna berbalut efek khusus meyakinkan, Train to Busan merupakan bukti lainnya bahwa perfilman Korea Selatan seharusnya di tingkatan teratas untuk diwaspadai oleh Hollywood. 

3 September 2016

REVIEW : INI KISAH TIGA DARA


Pertama kali mendengar Nia Dinata akan meng-upgrade film klasik Tiga Dara (1956) gubahan Usmar Ismail yang baru-baru ini dipertontonkan ulang ke khalayak ramai, dua reaksi meluncur bersamaan: bahagia dan was-was. Bahagia karena Nia akhirnya kembali menelurkan sebuah karya setelah lima tahun lamanya vakum dari kursi penyutradaraan terhitung semenjak Arisan! 2, sedangkan was-was lantaran materi sumbernya adalah sebuah mahakarya dari seorang Bapak Perfilman Nasional. Tentunya kekhawatiran ini tanpa bermaksud sedikitpun meremehkan kapabilitas Nia. Hanya saja, bukankah ada pepatah mengatakan bahwa “jangan pernah sekali-sekali perbaiki sesuatu yang tidak rusak”?. Well, Nia sih mengaku film terbarunya yang bertajuk Ini Kisah Tiga Dara hanya sekadar terinspirasi dari Tiga Dara alih-alih merekonstruksi, namun mengingat garis utama ceritanya kurang lebih serupa mengenai tiga bersaudari lajang yang kehidupan personalnya direcoki sang nenek – bahkan turut mengambil treatment sebagai film musikal dengan satu dua tembang digubah ulang – komparasi keduanya pun sulit dielakkan. 

31 Agustus 2016

REVIEW : DON'T BREATHE


Cenderung kesulitan menjumpai film horor yang terpatri kuat di ingatan tahun lalu, eh tidak dinyana-nyana pecinta genre ini dimanjakan sekali di 2016 dengan bertebarannya film seram berkesan mendalam. Hampir setiap bulan terwakili oleh satu judul film – kebanyakan diantaranya enggan menyambangi bioskop tanah air kecuali The Conjuring 2 beserta Lights Out – dan khusus bulan Agustus, menghadirkan Don’t Breathe arahan Fede Alvarez yang sebelumnya memberi kita ‘pesta darah’ kala mengkreasi ulang The Evil Dead. Bertolak belakang dengan debut film panjangnya, Don’t Breathe tidak meneror penonton lewat kekerasan berlevel tinggi yang memerahkan layar sekaligus bikin ngilu melainkan nuansa klaustrofobik sangat mengganggu bertabur ketegangan yang mengalami eskalasi di setiap menitnya. Ya, daya cekam hebat adalah kunci utama dari keberhasilan Don’t Breathe. Saking hebatnya, saya bahkan cukup berani untuk mencalonkan Don’t Breathe sebagai kandidat utama film horor terbaik sepanjang tahun 2016. 
Mobile Edition
By Blogger Touch